Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Portal Akademik Masuk
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Detail Berita
Kaprodi PIAUD UIN Alauddin Jadi Narasumber Seminar Nasional tentang Shared Parenting dan Tantangan Fatherless di Era Digital

Kaprodi PIAUD UIN Alauddin Jadi Narasumber Seminar Nasional tentang Shared Parenting dan Tantangan Fatherless di Era Digital

Kaprodi PIAUD UIN Alauddin Jadi Narasumber Seminar Nasional tentang Shared Parenting dan Tantangan Fatherless di Era Digital

PIAUD Online, 20 Mei 2026 — Ketua Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar, Dr. Eka Damayanti, S.Psi., M.A., menjadi narasumber pada kegiatan Seminar Nasional bertema “Shared Parenting dan Tantangan Fatherless di Era Digital” yang diselenggarakan oleh Program Studi PIAUD UIN Raden Fatah Palembang secara daring melalui Zoom Meeting pada 20 Mei 2026. Kegiatan seminar nasional tersebut merupakan tindak lanjut atas kerjasama UIN Alauddin Makassar dengan UIN Raden Fatah Palembang. Seminar ini menghadirkan sejumlah akademisi dan praktisi di bidang pendidikan anak usia dini, serta mahasiswa kedua universitas. Jumlah peserta yang hadir mencapai 300 orang. Selain Dr. Eka Damayanti, seminar juga menghadirkan Dr. Deko Rio Putra, M.Pd. dari UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu dan Muhtarom, M.Pd.I. dari UIN Raden Fatah Palembang sebagai narasumber.

Dalam materinya yang berjudul “Shared Parenting dan Tantangan Fatherless di Era Digital” Dr. Eka Damayanti menjelaskan bahwa krisis pengasuhan di era digital bukan hanya disebabkan oleh kurangnya waktu bersama anak, tetapi juga menurunnya kualitas keterhubungan emosional antara orang tua dan anak. Kondisi tersebut dapat memicu berbagai persoalan seperti kesepian emosional, kecanduan gadget, lemahnya regulasi emosi, hingga keterikatan sosial semu pada anak. Dalam pemaparannya, Dr. Eka Damayanti juga menjelaskan konsep shared parenting sebagai keterlibatan aktif, kolaboratif, dan konsisten antara ayah dan ibu dalam pengasuhan anak. Sementara itu, fenomena fatherless tidak hanya dimaknai sebagai ketidakhadiran ayah secara fisik, tetapi juga minimnya keterlibatan emosional, psikologis, sosial, dan spiritual ayah dalam kehidupan anak.

Melalui pendekatan psikologi perkembangan dan psikologi keluarga, ia menguraikan pentingnya keterikatan emosional (attachment) dalam keluarga sebagaimana dijelaskan dalam teori John Bowlby serta pengaruh keteladanan orang tua berdasarkan teori Social Learning Albert Bandura. Anak, menurutnya, belajar melalui observasi dan imitasi terhadap lingkungan terdekatnya, termasuk figur ayah dan ibu. Selain itu, seminar juga membahas berbagai tantangan pengasuhan di era digital seperti digital distraction parenting, screen-replaced relationship, konflik pekerjaan dan keluarga, hingga parenting burnout.

Sebagai solusi, Dr. Eka Damayanti menekankan pentingnya membangun shared parenting yang sehat melalui keterlibatan ayah (father engagement), penguatan secure attachment, kesadaran digital (digital conscious), dan pendekatan pengasuhan berbasis kekuatan anak (strength-based parenting).

Dalam sesi penutup, ia menegaskan bahwa keluarga tetap menjadi lingkungan pertama dan utama dalam pembentukan karakter dan perkembangan anak. “Dalam perspektif psikologi perkembangan, anak tidak hanya tumbuh dari pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi dari kualitas keterhubungan emosional dengan orang tuanya. Di era digital, tantangan terbesar keluarga bukan sekadar kemajuan teknologi, melainkan bagaimana menjaga kehadiran emosional ayah dan ibu tetap hidup di tengah distraksi dunia modern,” ungkap Dr. Eka Damayanti.

Kegiatan seminar nasional ini menjadi ruang edukasi dan refleksi bersama mengenai pentingnya kolaborasi pengasuhan dalam keluarga di tengah tantangan perkembangan teknologi digital yang semakin kompleks.

Penulis: Muh. Syihab Ikbal

Penyunting: Ade Agusriani